Jubir DAB SP Koibur sebut tiga negara paling bertanggungjawab bersihkan ranjau sisa peninggalan perang dunia II

banner 468x60

Biak, Papuautaranews -Juru bicara (Jubir) dewan adat Biak (DAB) Kain-kain Karkara SP Koibur menyebut tiga negara yakni Amerika, Jepang dan Belanda paling bertanggung jawab untuk membersihkan ranjau bahan peledak sisa peninggalan perang dunia II yang masih  tersimpan dasar laut di sepanjang perairan wilayah adat Saereri.

“Kami dari masyarakat adat sudah menyampaikan aspirasi pada seminar nasional mitigasi bahan peledak sisa peninggalan perang melalui TNI Angkatan Udara supaya pembersihan sisa ranjau berbahan peledak di berbagai lokasi perairan Biak oleh tiga negara Amerika, Jepang dan Belanda bersama pemerintah Indonesia,” kata Jubir Dewan Adat SP Koibur di Biak, Kamis.

Ia mengakui, keberadaan ranjau bahan peledak sisa peninggalan perang sejak 1944 hingga saat ini 2026 masih banyak tersimpan di dasar laut perairan Kabupaten Biak Numfor sekitarnya.

Dari ranjau bahan peledak sisa peninggalan perang Dunia II yang belum dibersihkan atau diangkat, menurut Koibur, disinyalir diambil dan bisa disalahgunakan oleh oknum warga tertentu untuk dimanfaatkan membuat bom ikan dopis.

“Kami dari dewan adat senantiasa memberikan sosialisasi dan edukasi tentang bahaya bahan peledak sisa peninggalan perang dunia yang masih tersimpan di Pulau Biak Numfor dan tidak boleh diolah menjadi dopis bom ikan,” katanya.

Koibur mengingatkan masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat tidak boleh menjadikan sisa ranjau bahan peledak peninggalan perang dunia dua diolah menjadi dopis atau sejenisnya.

“Kasus ledakan bahan peledak sisa peninggalan perang dunia II yang terjadi pada 31 Mei 2026 di kawasan perumahan warga kompleks pasar ikan yang menyebabkan sembilan korban meninggal dunia patut menjadi pengalaman pahit yang menyedihkan,” katanya.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *