Biak, Papuautaranews -Ketua Paguyuban Warga Jawa Tengah Biak Numfor Gunadi S.Sos,M.Si mengeluarkan lima pesan untuk warga Jawa Tengah pada acara tasyakuran Suroan Tahun 1960 Jawa dan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, di Biak, Sabtu malam (20/6).
Ketua PW Jateng Gunadi dalam keterangan di Biak, Minggu (21/6) mengatakan, tujuan acara Suroan/Tasyakuran Suro sebenarnya gabungan dari tiga nilai yakni Budaya Jawa, Nilai Religi Islam dan Nilai Sosial.

Oleh karena itu, dalam menyambut tahun baru Suro 1960 dan Muharram 1448 Hijriyah ini, menurut Gunadi, ada lima (5) pesan filosofis sekaligus urgensi mendalam yang harus kita maknai dan bawa pulang ke rumah masing-masing.
Pesan pertama dari Suroan ini, menurut Gunadi, Mawas Diri dan Mulat Sarira (Introspeksi Total), lanjut dia, karena Bulan Suro dalam tradisi Jawa identik dengan keheningan. Mengapa harus hening? Agar kita bisa mulat sarira, berani melihat ke dalam diri sendiri, menghitung cacat dan kebaikan yang telah kita perbuat di tahun lalu.
Gunadi mengingatkan, Suro melarang kita sibuk menilai orang lain, melainkan menuntut kita menjadi hakim bagi diri kita sendiri sebelum melangkah ke tahun yang baru.
Pesan kedua dari Suroan ini, menurut Gunadi, adalah Laku Prihatin dan Kendalining Hawa Nafsu (Pengendalian Diri)
“Tradisi Suro lekat dengan tirakat atau laku prihatin, seperti berpuasa atau mengheningkan cipta serta mengajarkan kita mengendalikan hawa nafsu, mengasah kepekaan batin, dan menguatkan struktur spiritual kita agar tahan banting menghadapi ujian hidup,” ujarnya.
Sedangkan pesan ketiga, lanjut dia, semangat Hijrah dan Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti Selaras dengan makna 1 Muharram sebagai gerbang hijrah Nabi Muhammad SAW.
“Falsafah Jawa juga telah mengingatkan bahwa segala macam bentuk kebatilan, kekerasan, dan angkara murka yang ada dalam diri kita (sura dirajayaningrat) hanya bisa dilebur dan dikalahkan dengan kebaikan, kelembutan, serta kasih sayang (lebur dening pangastuti),” katanya.
Pesan keempat pada acara tasyakuran 1 Muharram 1448 H, menurut Gunadi, yakni Memayu Hayuning Bawana (Menjaga Harmoni Semesta) Manusia Jawa yang sejati adalah manusia yang sadar akan tugasnya untuk memayu hayuning bawana-memperindah dunia yang sudah indah.
Ia mengemukakan, peringatan tahun baru ini mengetuk kesadaran kita untuk menjaga keselarasan hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan sesama manusia, serta hubungan dengan alam lingkungan sekitar.
Sementara pesan kelima, lanjut Gunadi, Ngumpulke Balung Pisah atau (Merawat Sendi Persaudaraan) di tanah rantau, wadah Paguyuban adalah rumah, pelukan, dan tiang penyangga bagi kita semua.
Diakuinya, Momentum Suro dan Muharram ini harus menjadi pengingat bahwa sekencang apa pun angin perbedaan bertiup, kita harus tetap guyub rukun, gotong royong.
“Serta memegang teguh prinsip saling asah, asih, dan asuh. Jangan sampai tali paseduluran kita kendor. Kita harus tetap kuat, dan makin kuat,” katanya.











